Ini Hariku

Berkaca mata? Emang, terus kenapa? Aku lambat? Emang terus kenapa? Kalau dihitung-hitung aku emang punya seribu, sejuta, bahkan miliaran kekuranganku yang mungkin aku sendiri gak sadar atas semua kekuranganku. Itu kata-kata yang selalu terlontar dalam benakku setelah ku dengar ocehan seorang perempuan yang tak lain dia adalah mamiku sendiri. Ejekan, kritikan, bentakan, yah semua itu apalah. Hari ini tepatnya dari awal bangun tidur dan entah sampai kapan berakhirnya.

Rasanya aku ingin masuk ke dalam kardus lalu kardus itu diangkut ketempat yang sangat jauh dari tempat keberadaanku sekarang ini. Hancur rasanya itu pasti, oke, hinaan itu memang baik untuk aku maju. Tapi kalau bertubi-tubi gini pastinya hancurlah otakku.

Untuk lebih jelasnya akan ku ceritakan kronologi ceritanya.

Kisah ini dimulai saat aku mulai menikmati libur yang jatuh pada hari kamis dan berakhir pada hari minggu. Teriknya sinar matahari membuatku menjadi lelah dan tertidur. Tak lama dari tertutupnya mataku terdengarlah nada tinggi seperti membentak.

“Fan! Cepat bangun!” Yah ternyata suara itu dari mamiku.

“Ya.. Apa?” jawabku dengan nada lesuh dan ngantuk-ngantuk.

“Tolong pergi belikan minyak !” perintahnya yang terdengar tak jelas di telingaku.

“Apa?” Tanyaku meminta kejelasan.

“Tolong pergi belikan minyak..!! Sekarang..!!!” ucapnya dengan nada tinggi dan mulai marah.

Ya sejujurnya aku masih tak begitu mendengar dengan jelas aku berusaha berpikir sambil beranjak dari kasur sambil kedip-kedip, aku yang tadinya dalam mimpi sambil memimpi aku telah pergi membeli minyak itu. Saat aku mulai membuka pintu , aku bingung apa yang inginku lakukan. Tiba-tiba dari dapur muncul suara nada tinggi dan keras, “Cepatlah Fan! ini uang beli minyaknya” katanya dengan marah tapi tetap saja aku masih bingung apa yang harus aku ambil sampai aku tiba di dapur. Yah dari situ akhirnya aku baru connect apa yang harus aku lakukan. Dengan segera ku ambil uang itu dan ku pergi membeli minyak, setelah ku berikan kudengar sebuah kalimat, “Kamu, lambat banget sih..” katanya. Tapi ku tak peduli itu akhirnya aku tidur lagi, dan mimpi indah lagi. Rasanya aku baru melanjutkan tidur 5 menit yang lalu tapi kembali ku dibangunkan lagi dengan nada yang sama. Tapi kali ini dengan sebuah pukulan kecil di kaki.

“Fan.. salin nasi dan jangan lupa masak ya.” perintahnya beruntun. Pusing, ngantuk, letih, lesu, dan lemah masih bercampur aduk. Dengan langkah terpaksa aku mulai laksanakan perintahnya satu per satu. Karena hari ini aku libur dan kerjaku telah selesai, akhirnya akupun kembali tidur di sofa. Tak terasa dari awal pukul satu sampai beralih pukul dua aku baru membuka mata dengan dilengkapi suara menguap. Baru saja aku duduk membuka mata sambil memandangi ruang tamu yang sudah sepi karena semua sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba suara mamiku melengking lagi.

“Faann… Cepet mandiii… terus ke depan!”

“Ya.. Mi..” dengan suntuknya ku jawab serta ku langkahkan kaki bergegas ke kamar mandi. Dalam mandi aku juga tak lupa ku gosok gigi, dan pastinya cuci muka 2 kali. Tapi semua itu tak sedikit pun berpengaruh dan melindungiku dari kata mamiku berikutnya. Yah kata itu muncul ketika aku sedang menjaga di toko.

“Kok mukamu lesuh banget? Cuci muka ya !” Katanya terucap darinya di tengah kerumunan pembeli yang seketika pun ikut menyempatkan diri menonton kejadian yang kurang lebih berdurasi tiga menit itu.

“Udah.. Kok…” jawabku menyangkal opininya itu yang 100% salah besar.

“Udahlah sana ke belakang.. Cuci muka lagi!” perintahnya.

Kaki yang mendadak jadi enteng itu langsung lari karena senang akhirnya bebas tugas. Ya walaupun aku sudah bebas tugas tetap saja aku harus mencuci mukaku lagi, ya kali ini ku cuci mukaku yang katanya lesuh ini lebih lama dan dengan gosokan yang lebih keras lagi. Sepuluh menit berlalu di kamar mandi akhirnya selesai sudah muka ini ku cuci. Karena nanti sore aku ada basket akhirnya ku buka hp-ku. Ku lihat ada pesan masuk. Setelah ku buka ternyata dari Elmera.

“Nanti jam 3. Basket.”

“Ya oke.” jawabku.

Karena aku punya waktu yang sedikit longgar aku sempatkan untuk berselancar di medsos yang cukup terkenal “Fb” namanya sembari ku tatap layar tv yang dari tadi nyala gak tahu siapa yang nonton. Mungkin baru jangka waktu 15 menit berlalu, rasanya baru saja ku merasa santai, tiba-tiba…

“Faannn… Siiniiiii!” suara mamiku melengking lagi.

“Iyaaa….” jawabku tak kalah kerasnya. Keras bukan berarti melawan tapi hanya sekedar ibuku dengar jawabanku. Aku segera lari dan berharap tak dikatai lambat lagi. Tapi harapanku pupus begitu saja setelah langkahan kaki terakhirku menuju ibuku itu.

“lambat bangeettt sih?”

“Hmm..” jawabku kecewa karena usahaku tadi sia-sia dan sangatlah sia-sia.

“Nih transfer..” perintahnya lagi.

Dengan cepat aku beranjak pergi melaksanakan tugas. Tak lama kemudian aku kembali ke rumah dan menghadap mamiku lagi menyerahkan bukti transfer itu.

“Cuci muka.. Ya.. Lah! Yang bersih! Mukamu kotor banget. Sana ke belakang lagi.”

Huuufft… tak terduga kata itu muncul lagi, di depan ramainya pembeli ditambah lagi beberapa sales yang mukanya terlihat kaget dan ada yang nyengir juga melihat insiden ini. Lalu tanpa tunggu lama lagi langsung saja ku langkahkan kaki pergi menuruti perintahnya.

Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul setengah tiga akhirnya ku putuskan untuk tidur, agar ku bisa menenangkan sedikit otakku ini yang sedari pagi penuh dengan kata-kata lambat. Rasanya nyaman sekali, ku pejamkan mata di atas kasur yang sedikit empuk mungkin karena saking penatnya kepala ini aku langsung terlelap nyenyak. Hingga gaduh, berisik, yang merusak mimpi indahku, terdengar membangunkanku yang ternyata itu adalah suara adikku yang baru pulang dari bermain.

“Jam berapa gess ?” tanyaku pada adikku yang sering ku panggil igess.

“Jam tiga kurang,” jawabnya santai.

“Yang bener.. Gess ?” jawabku agak kaget.

Lalu ku langsung bergegas mandi tak lupa gosok gigi dan cuci muka lagi dengan harapan ada perkembangan setidaknya aku tak lagi dikatai lambat di depan umum. Sialnya semua sweatpants ku ternyata sedang dicuci begitu pun bajuku. Akhirnya karena ku buru-buru ku ambil pakaian seadanya. Setelah selesai aku bergegas pergi ke depan toko menemui ibuku dan meminta izin. Ku kira semua akan lancar tanpa ejekan dan kritikan tapi ternyata tidak.

“Mi.. fany berangkat basket dulu ya..”

“Ya udah cepet sana! Udah lambat banget, bajunya acak-acakan gimana sih? Yang bener yalah apa-apane!”

“Ya..” satu kata untuk semuanya. Langsung ku pergi menuju lapangan basket sekolah. Lima belas menit berlalu akhirnya sampai jua.

“Bagus.. Lengkap sudah.. Di rumah dimarahi terus. Basket telat. Hebat banget.” gerutuku setelah masuk lapangan basket. Kebetulan teman-teman ku belum pada pemanasan, jadi aku tidak sendirian pemanasannya.

Ya dengan keadaan yang pikiran yang belum tertata ini aku mengikuti basket. Dua jam berlalu basket pun selesai. Seperti biasa aku dijemput telat. Satu per satu temanku pergi pulang. Dan akhirnya hanya tersisa aku sendiri. Biasanya jemputanku itu datangnya lama ku putuskan untuk duduk di kursi  kantin sambil memainkan hpku. Inilah yang selalu menemaniku di setiap keadaanku, karena baterai hpku sudah menunjukkan angka kritis akhirnya ku putuskan berselancar di fb saja. Waktu bergulir cepat tak terasa jemputanku sudah datang. Setelah 15 menit berlalu sampai juga aku di rumah. Akhirnya aku masuk rumah menuju kamar mandi, ganti baju dan sejenak menyempatkan mataku menonton tv sampai seketika terdengar suara itu.

“Fann.. Nasinya ditatain..” agak rendahan dikit nadanya. Mungkin karena lelah.

Tanpa kata-kata langsung ku ambil magicom lalu ku tatakan di atas piring-piring. Setelah adzan berkumandang kami semua sekeluarga mulai makan. Dalam sesi makan ini mamiku tak banyak berkomentar tentangku dia sibuk menceritakan kejadian-kejadian di toko tadi siang. Aku agak sedikit lega. Berharap semuanya telah berakhir. Tapi harapanku itu tak terkabul seketika itu juga, setelah sesi makan selesai mamiku langsung mengulang kata-katanya tadi siang. Kalau dihitung-hitung mungkin ada 3 menit semua kata-kata itu diucapkannya kembali. Aku yang sudah bosan. Aku hanya mengiyakan apa yang diperintahnya.

Tak lama kemudian waktu maghrib berlalu salat maghrib pun sudah selesai. Aku pun mulai santai kembali karena obrolan sudah berganti dengan kisah lain, tapi ternyata obrolan itu pun tak lepas dari ejekan dan kritikan serta komentar tentangku lagi. Karena saking jenuhnya aku mendengarkannya akhirnya ku buka laptopku dan mulai ku tulis semua kisahku dalam bentuk sebuah cerpen. Sampai setelah setengah jalan cerpen ku tulis, mamiku mulai berhenti berkomentar tentangku. Dan pergi tidur. Yah mungkin dia lelah. Dan berakhirlah ceritaku ini.

Advertisements

One thought on “Ini Hariku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s